Gagal = Malu?

Dalam minggu ini ada 2 berita yang cukup mencuri perhatian saya, yaitu tentang Mobil kebanggaan Indonesia esemka yang gagal lulus uji emisi dan Kekalahan Timnas Sepak Bola Indonesia atas Bahrain yang cukup mengejutkan.

Seperti yang kita ketahui, Esemka merupakan mobil kebanggaan Indonesia, meski belum bisa diproduksi massal. Seluruh media, baik online atau offline semua memujanya. Tapi pujian tesebut ternyata gak bertahan lama, loh ada apa? Jadi gini, setelah saya baca-baca berita eh ternyata Esemka gak lulus UAN eh gak lulus uji emisi yang menjadi syarat agar mobil ini bisa diproduksi massal. Dan kegagalan ini sudah 2 kali terjadi, yang pertama pada 3 Agustus 2010 dan yang kedua 27 Februari 2012. Semuanya gak lulus. Dan hebatnya lagi semua media mulai menjadikan momen ini untuk mengkritik dan mencemooh Esemka. Kasian Esemka, kalo gak lulus kan masih bisa ikut remidi – Ups! – memang bisa ya 😀

Padahal persiapan Esemka untuk uji emisi yang kedua ini bisa dikatakan cukup mumpuni loh, lah bayangkan sebelum berangkat ke Jakarta harus dimandiin kembang 7 rupa dulu, entah biar seger selama perjalanan atau biar sekalian dapat ilmu kanuragan juga kali ya..hehehe.. tapi kalau menurut koordinator proses Jamasan (ritual mandi kembang) Esemka Rajawali, Bambang Suhendro, menjelaskan, esensi acara itu adalah doa kawilujengan atau keselamatan. Nah dari berita inilah saya lihat cukup menarik, karena untuk mendapat keselamatan dari Allah SWT harus mandi kembang dulu, 7 rupa lagi. Jadi ingat lagu dangdut nih,

Mandi kembang tengah malam
jangan kau lakukan
kalau hanya mengharap maaf dariku

Yah, mungkin teman-teman bisa dipelajari lagilah prosesi Mandi Kembang itu boleh apa gak, malah tetangga saya sempet nyeletuk gini,

apa mungkin gara-gara dimandiin ya, Esemka jadi gak lulus uji emisi; terus saya jawab, lah hubungannya apa mas?; Tetangga saya pun jawab dengan sambil pasang tampang trololol, ya kan mesinnya jadi rusak mas kena air dan kembang……hahaha

Itu tadi tentang pemandian mobil eh salah tentang Esemka yang udah mandi tapi gak lulus uji emisi. Selain Esemka, yang menarik perhatian saya adalah Sepak bola.

Udah pada tau kan kalau Indonesia, 29 Februari lalu baru menang dari Bahrain 10-0? Woooiii kata siapa, yang ada Indonesia tuh yang kalah…..Apaaaa???? -pengen rasanya banting meja- berita ini sangat mencengangkan bagi saya, karena sejak saya lahir dan paham akan dunia sepak bola, belum pernah tahu kalau Indonesia bisa separah ini. Yang muncul dibenak saya hanyalah pertanyaan lugu, kenapa bisa begini? bukannya Indonesia 2007 lalu pernah menang sama Bahrain? kemana Boaz, El Loco, Firman Utina, Kurnia Meiga, Andik?? 😦

Saya mencoba menelusuri kebenaran berita ini, dan salah satunya saya dapatkan di goal.com. Disana saya cek statistik dan susunan pemain timnas Indonesia….OMG ya ampun ya Rabbi. Dari situ saya bisa melihat bahwa kekuatan Indonesia benar-benar jomplang dengan Bahrain yang personel timnya lebih berpengalaman, entah ini konspirasi atau tidak menit kedua babak pertama si Samsidar untuk dipaksa istirahat sama kartu merah. Kasian sama Aji Santoso mendapatkan debut kepelatihannya di timnas dengan rekor yang amazing, yaitu kekalahan terbesar sepanjang sejarah Indonesia di dunia sepak bola…WOW, iya bener-bener amazing.

Gak beda jauh dengan kasus Esemka tadi, timnas pun juga menerima kritikan dan cemoohan bertubi-tubi, terutama terhadap PSSI, yang sejak tahun lalu sampai sekarang masih sibuk dengan problem internalnya. huft! Banyak mengkritisi kasus skor amazing ini bahwa adanya konspirasi pengaturan skor, bahwa ini kesalahan wasit….bla..bla..bla…Sampai-sampai FIFA turun tangan untuk investigasi loh gan.Parah atau gaknya silahkan nilai sendiri dah 😀

Bukannya Indonesia gudangnya motivator ya? Lah terus hubungannya? ya mungkin perlu tuh timnas Indonesia dibina oleh para motivator terbaik Indonesia. Kalau perlu PSSI-nya sekalian juga. -pokerface-

Nah dari 2 kasus di atas semuanya menerima banyak cemoohan dan kritikan. Menurut saya, mereka penerima kritikan haruslah berlapang dada dan menerimanya, karena apa? kritikan itu kalau mau disadari bukanlah simbol kebencian tapi sebuah harapan bahwa pengkritik menginginkan hal yang lebih baik. Sekarang butuh kearifan para pemain timnas dan pembuat Esemka untuk menyikapi kritikan tersebut, jadikan hal tersebut sebagai pelecut semangat untuk menjadi lebih baik lagi. Justru jangan terlalu terbuai dengan pujian, karena orang yang memuji anda saat ini bisa jadi sudah puas dengan penampilan anda.

Tulisan perdana ini sebagai keluhan dan renungan saya di blog saya yang baru ini. Jangan lupa untuk terus pantengin haneev.wordpress.com, mungkin teman-teman menemukan info yang bermanfaat disana 🙂

Km. 14, Malang
07.55 PM